Tetrapack

Tahun 1951, sebuah perusahaan multinasional dari Swedia yang bergerak di bidang pengepakan makanan berhasil memproduksi kemasan makanan yang dapat membuat produk makanan dalam kemasan tersebut lebih tahan lama (Wikipedia). Kemasan itu sekarang dikenal dengan sebutan tetrapack. Sedangkan perusahaan tersebut dikenal dengan nama Tetra Pak. Sistem pelapisan kertas karton dengan komponen plastik dan alumunium pada tetrapack bertujuan untuk menyempurnakan tingkat kekedapan udara dalam kemasan tersebut. Aluminium dipilih karena harganya lebih murah dibandingkan logam atau bahan kedap udara lainnya, selain karena aluminium ini ringan dan tidak mudah untuk terkorosi. Kemasan ini berbentuk balok dan biasa digunakan sebagai pengemas minuman susu, teh, sari buah, dan lainnya.

Dampak Penggunaan Tetrapack dalam Jumlah Besar

Di Indonesia, saat ini kemasan tetrapack sudah banyak digunakan oleh industri-industri makanan ternama. Di sisi lain penggunaan dalam skala besar menimbulkan permasalahan di bidang lingkungan karena kemasan tetrapack sendiri tidak ikut terkonsumsi atau dengan kata lain menjadi sampah. Di Bandung, contohnya, Berdasarkan hasil survei di beberapa franchise −Indomaret, Yomart, Alfamart, Circle K− di kota Bandung, jumlah tetrapack yang dikonsumsi per hari mencapai angka sekitar 30.000 kemasan. Dapat dibayangkan jumlah tetrapack yang dikonsumsi dalam kurun waktu 1 tahun akan menimbulkan suatu permasalahan sampah yang serius.

Sampai saat ini penanganan sampah tetrapack masih dilakukan dengan metode yang kurang tepat, setidaknya dalam skala rumah tangga. Biasanya sampah tetrapack dibakar bersama dengan sampah organik lainnya. Ketika dibakar, kertas karton dan polietilen akan habis terbakar, namun logam Al tidak ikut terbakar dan dikubur dalam tanah. Logam aluminium dalam tanah dapat mengakibatkan pencemaran tanah. Lalu hasil dari pembakaran kertas karton dan polietilen pun akan berdampak pada pencemaran udara karena pembakaran tersebut menghasilkan senyawa polutan yang dapat membahayakan lingkungan. Kemungkinan lainnya adalah adanya pelarut yang dapat melarutkan logam aluminium sisa pembakaran tadi dan membawa sisa logam tersebut ke perairan dan menyebabkan pencemaran air. Jikalau pun dibakar di kolom insinerasi dengan suhu yang tinggi, aluminiumnya hanya akan meleleh untuk sementara waktu. Lelehan aluminium ini akan kembali menjadi padatan dan membentuk kerak pada insinerator saat terjadi penurunan suhu.

Selain dibakar, penanganan sampah tetrapack yang dianggap kurang tepat adalah dengan cara dikubur di dalam tanah. Penanganan ini akan berakibat buruk pada kondisi tanah karena hanya lapisan karton yang dapat terdegradasi di dalam tanah. Penguraian karton pun hanya dapat terjadi jika kemasan tetrapack telah rusak secara fisik dan kehilangan lapisan pelindung polietilennya. Di lain pihak, lapisan polietilen tidak dapat diuraikan dan akan mengganggu keadaan fisik tanah. Sedangkan lapisan aluminium akan membentuk oksidanya dan mengganggu keseimbangan unsur-unsur dalam tanah.

Sampah Tetrapack dan Pengolahan yang tepat

Sampah tetrapack memiliki 3 lapisan, yaitu kertas karton 75%, plastik (polietilen) 20%, dan aluminium 5%. Pemanfaatan karton telah dan sedang dilakukan oleh Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) yang berlokasi di Dayeuh Kolot, Bandung. Pemanfaatan karton dari sampah tetrapack ini dianggap telah berhasil menjadi salah satu solusi penghematan penggunaan kayu sebagai bahan pembuat kertas yang berdampak pada berkurangnya penebangan pohon di Indonesia.

Ada 3 alternatif dalam proses pengolahan sampah tetrapack ini, yaitu pengolahan dengan Hot Pressing, Ekstrusi Aluminium-Polietilen, dan Teknologi Plasma. Metoda Hot Pressing merupakan metode yang dinilai paling sederhana dan sesuai bila ingin diterapkan di Indonesia dibandingkan dengan 2 metode lainnya.

Metode Hot Pressing

Sesuai dengan namanya metode ini memiliki 2 kata kunci, yakni: pemanasan dan penekanan. Setelah karton pada kemasan tetrapack terpisah secara sempurna, campuran plastik dan alumunium yang tersisa kemudian dipanaskan pada suhu optimum dimana plastik mencair sedangkan alumunium tidak mencair. Kemudian campuran yang telah dipanaskan tersebut diberi tekanan optimum sampai terbentuk komposit yang memiliki daya tahan terhadap berat yang cukup tinggi sebagai material perkakas seperti meja, kursi, atap rumah (genteng).

Percobaan Skala Laboratorium (metode Hot Pressing)

Percobaan Skala Laboratorium saat ini telah dilakukan oleh 5 orang mahasiswa TK 2006, yakni Fernando, Ijal, Epul, Hamzah, dan Nazrul. Percobaan yang dilakukan adalah:

1. Pemisahan

Pemisahan bertujuan untuk mengambil kandungan aluminium-polietilen dari sampah tetrapack dan mengeluarkan kandungan kertasnya. Pemisahan aluminium-polietielen dari kertas dilakukan dengan cara mekanik.

2. Pengeringan

Aluminium-polietilen hasil dari pemisahan bahan baku dikeringkan langsung dibawah sinar matahari. Pengeringan dianggap selesai ketika seluruh permukaan aluminium-polietilen tersebut telah mengering.

3. Analisis Pendahuluan

Analisis ini dilakukan di beberapa labotarorium di ITB, antara lain lab Instruksional Teknik Kimia, lab Keselamatan Proses dan Pengendalian Korosi, lab kimia dasar, lab Teknik Sipil, lab Teknik Material, dll. Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan data kondisi awal bahan sebagai pembanding dengan produk akhir. Misalnya persen berat (% w/w) dari aluminium dan polietilen.

4. Pencacahan

Alumunium-polietilen kemudian dicacah hingga ukuran yang cukup kecil untuk mempermudah proses pelelehan.

5. Pemanasan

Pemanasan aluminium-polietilen akan mempermudah dalam proses selanjutnya yaitu pencetakan produk. Aluminium-Polietilen dipanaskan dalam reaktor pemanas dengan suhu yang divariasikan. Variasi suhu diperuntukkan agar mendapatkan suhu yang optimum dalam pemrosesan sehingga dihasilkan produk yang mempunyai karakteristik terbaik.

6. Pencetakan

Setelah pemanasan, aluminium-polietilen panas dimasukkan ke dalam cetakan sambil diberi tekanan. Besar tekanan harus semaksimal mungkin agar menghasilkan produk—berbentuk koin dengan tebal 1,5 cm dan diameter 6 cm—dengan karakteristik yang terbaik.

7. Pendinginan

Untuk mendapatkan produk akhir, setelah pencetakan, suhunya didinginkan. Lama pendinginan bergantung dari ketebalan produk yang berada dalam cetakan.

8. Penyelesaian

Penyelesaian yang dimaksud adalah pengeluaran produk dari cetakan. Agar produk akhir tidak melengket pada cetakan, permukaan sentuh cetakan dengan produk diberi lapisan aluminium foil.

9. Analisis Produk Akhir

Layaknya analisis pendahuluan, untuk mendapatkan data kondisi produk akhir sebagai pembanding dengan kondisi awal.

gambar produk:

produkok1

Posted by: epul130 | November 18, 2008

Mungkinkah GAMBUT?

Siapa sangka gambut yang selama ini kita kenal hanya sebagai salah satu jenis tanah yang memiliki tingkat keasaman yang tinggi, ternyata mungkin untuk dijadikan sebagai sumber energi baru. Penelitian pun dilakukan oleh Eka Satrya B.K.W., Habib Ahmad Gebril A.Z., Mahasiswa TK angkatan 2004, dibawah bimbingan dosen kita Dr. Yazid Bindar. Dengan judul GASIFIKASI GAMBUT DENGAN METODA FLUIDISASI TERSIRKULASI

Gambut memiliki kadar karbon cukup tinggi sehingga berpotensi untuk dijadikan bahan bakar. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengolah gambut menjadi bahan bakar adalah gasifikasi. Dengan teknik gasifikasi, gambut diharapkan dapat menjadi sumber bahan bakar yang potensial untuk mengatasi krisis energi. Untuk dapat mengetahui karakteristik gasifikasi gambut dapat dilakukan penelitian dengan menggunakan circulating fluidized bed gasifier. Pengujian gambut sebagai umpan gasifikasi dilakukan melalui percobaan gasifikasi dan fluidisasi dengan memvariasikan laju alir udara pasokan.

Gambut merupakan timbunan material vegetasi yang tidak terdekomposisi secara sempurna. Pada prinsipnya, gambut terbentuk dari vegetasi yang mengalami hambatan dalam proses dekomposisinya pada lingkungan asam dimana terjadi genangan air sepanjang tahun atau disebut kondisi rawa. Pada kondisi ini, dekomposisi yang membutuhkan kehadiran oksigen menjadi terhambat, sehingga vegetasi di lingkungan tersebut terakumulasi dengan lambat (Fuchsman, 1980).

Gambut dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu slightly decomposed sphagnum, highly decomposed sphagnum, dan highly decomposed low-moor. Seperti halnya bahan bakar padat lain, setiap jenis gambut terdiri dari unsur utama C, H, O, N, dan S. Komposisi masing-masing unsur berbeda-beda untuk setiap jenis gambut.

Gambut memiliki bentuk dan ukuran yang beragam. Sebagian besar gambut yang digunakan berbentuk bongkahan. Selain itu gambut juga memiliki kadar air tinggi. Sebagai umpan gasifikasi, jika digunakan secara langsung, maka gambut akan sulit diproses dan dapat mengganggu kinerja gasifikasi. Oleh sebab itu, pengolahan awal terhadap gambut perlu dilakukan. Pengolahan awal tersebut berupa pengecilan dan penyeragaman ukuran serta pengurangan kadar air pada gambut.

Pada intinya ada dua percobaan yang dilakukan, yakni gasifikasi dan fluidisasi. Penyiapan peralatan gasifikasi dilakukan dengan cara pemasangan saluran LPG, termokopel, manometer U, orifice, blower, dan pemantik pada gasifier aliran panas, sedangkan penyiapan peralatan fluidisasi dilakukan dengan cara pemasangan manometer U, orifice, dan blower pada gasifier aliran dingin.

Percobaan gasifikasi terdiri dari tahap pemanasan gasifier, pengumpanan pasir, pengumpanan bahan bakar, pencatatan temperatur operasi, serta pembakaran dan pengambilan sampel gas produser. Pemanasan gasifier dilakukan hingga temperatur bagian bawah gasifier mencapai temperatur gasifikasi, yaitu 800 – 1000 oC. Pada saat temperatur bagian bawah gasifier mencapai 700 oC, pasir diumpankan ke gasifier. Ketika temperatur gasifikasi tercapai, bahan bakar diumpankan ke gasifier. Setelah itu, temperatur operasi dicatat dan pembakaran terhadap gas produser dilakukan. Bersamaan dengan pembakaran gas produser, pengambilan sampel gas produser dilakukan.

Percobaan pemeriksaan fluidisasi terdiri dari tahap pengumpanan pasir dan bahan bakar, fluidisasi, pengukuran tinggi unggun, dan pengamatan kondisi unggun. Pengumpanan pasir dan bahan bakar dilakukan sebelum udara dialirkan ke gasifier aliran dingin. Jumlah pasir yang diumpankan pada percobaan ini sama dengan jumlah pasir yang diumpankan pada percobaan gasifikasi, sedangkan jumlah bahan bakar yang diumpankan merupakan hasil akumulasi bahan bakar pada percobaan gasifikasi. Setelah pasir dan bahan bakar diumpankan, udara di alirkan ke gasifier. Laju alir udara yang digunakan pada percobaan ini merupakan laju alir gas produser rata-rata pada percobaan gasifikasi. Setelah udara dialirkan, pengukuran ketinggian unggun dan pengamatan terhadap kondisi unggun dilakukan. Untuk mengetahui kualitas gas produser yang dihasilkan pada percobaan gasifikasi, perlu dilakukan analsis terhadap sampel gas produser yang diambil pada saat percobaan. Analisis yang dilakukan adalah analisis Gas Chromatography (GC). Analisis GC dilakukan untuk mengetahui besarnya kandungan komponen gas-gas produser, terutama kandungan gas CO, H2, dan CH4. Semakin besar kandungan ketiga komponen gas tersebut, kualitas gas produser yang dihasilkan semakin baik.

Berdasarkan percobaan gasifikasi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa gambut dapat tergasifikasi melalui mekanisme fluidisasi. Sifat reaktif gambut memungkinkan terjadinya gasifikasi dengan cepat. Karakteristik gasifikasi gambut yang diperoleh pada percobaan gasifikasi gambut yaitu: profil temperatur gasifikasi; kandungan gas produser terdiri dari CO, H2, CH4, CO2, O2, dan N2; perolehan gas produser; nilai bakar gas produser (LHV); efisiensi gasifikasi; serta konversi karbon. Dan yang tidak kalah penting adalah nilai bakar gas produser (LHV) yang cukup besar, yakni 1330 – 1370,6 kJ/Nm3.

Satu pelajaran penting yang dapat diambil adalah mungkin selama ini kita belum tergerak mengoptimalkan sumber daya alam di sekitar kita dan bahkan selama ini terabaikan. Kalau gambut bisa dijadikan sumber energi baru, maka bagaimana dengan kekayaan lain negeri ini mulai dari rempah – rempah hingga minyak bumi?

Sekedar ingin mengingatkan bahwa kekayaan alam bangsa kita banyak lho, dan mereka menunggu untuk dimanfaatkan secara optimal oleh putra – putri terbaik negeri ini, untuk kemakmuran negeri kita juga tentunya. Jadi, bersiaplah menjadi putra – putri terbaik Negeri Indonesia!

Posted by: epul130 | November 18, 2008

Membuka Harapan di Situbondo

19 November 2008

Senja di jumat sore..

Perjalanan di mulai dengan sedikit “shock terapy”, mengejar kereta executive turangga yang berangkat pukul 19.00 WIB sementara jam setengah 6 sore nya, saya baru selesai kuliah Teknologi Plasma.

dengan persiapan super singkat, jam 18.15 saya berangkat dari kontrakan tercinta. padahal, Pak David (rekan bisnisnya Pak Sanggono) sudah mewanti-wanti agar saya sudah tiba di stasiun jam 18.45..

bisa gawat nih, kalo sampe telat.. mana jalan BIP macet.. ditambah lg, si edo salah masuk pintu stasiun.. haha, ada aja. (sorry bro, bikin repot..)

untungnya jam 18.55 saya bisa tiba di depan kereta, melihat pak david yang sudah menurunkan barang2 bawaan dari kereta, karena takut saya terlambat dan tidak jadi pergi ke Situbondo.. (maaf pak, udah bikin deg2an..:D).

5 menit kemudian, kereta pun meluncur. skitar 13 jam waktu yang dibutuhkan untuk sampai di stasiun Gubeng, Surabaya. dari sana, sudah disediakan mobil sewaan untuk melanjutkan 8 jam perjalanan darat menuju Situbondo. Melewati jalan utama porong yang dibentengi tanggul lumpur lapindo yang konon katanya berketinggian 21 m. (btw, mudah2an Pak Bakrie yang baik hati sudah menunaikan tanggung jawabnya terhadap warga sekitar luapan lumpur lapindo, kasihan Pak, daerah situ jadi seperti kota tak berpenghuni, banyak rumah yang kosong ditinggal penghuninya, banyak juga toko2 yang gulung tikar, karena mereka takut benteng setinggi 21 meter itu tak sanggup menahan luapan lumpur lapindo).

selain pemandangan memilukan di Sidoarjo. kami juga melewati sebuah tempat wisata bertajuk “pantai pasir putih” di Situbondo.. menyajikan pemandangan eksotis perpaduan birunya laut dan putihnya pasir pantai yang menyejukan hati.

Sampai juga, di desa kumbang sari, situbondo. setelah dijamu sebentar di rumah Pak Nur. Kami langsung bergegas menuju areal sawah yang akan dijadikan tempat demplot (aplikasi pupuk cair). Pak Nur adalah seorang petani mapan yang punya sawah hingga 5 hektare lebih. Bersama dengan kelompok tani yang dipimpinnya, setiap hari menyuplai beras sekitar 4 ton lebih.

Untuk itu, kami mencoba membantu Pak Nur dan kelompok taninya agar mampu menjaga bahkan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi berasnya. sebuah harapan wajar dari petani ditengah semakin mahalnya biaya operasional yang dibutuhkan seperti untuk pupuk, pembasmi hama, bahan bakar untuk traktor, dll.

setelah menyepakati areal yang akan dijadikan tempat demplot, saya pun beristirahat di hotel losari, Situbondo. Melewati malam minggu di Situbondo, sebelum besok memberikan penyuluhan lebih detail lagi kepada Pak Nur.

“membuka harapan para petani di Situbondo” itulah tema perjalanan panjang pejuang pupuk di minggu ini. Semoga harapan itu, bisa terwujud demi kesejahteraan petani negeri kita.

dan tibalah saatnya perjalanan panjang untuk pulang ke bandung di mulai..

dan kali ini giliran kereta api executive turangga yang datang telat..

ampe bsok paginya harus mengorbankan kuliah OPD (hmm…)

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang dianugrahi Tuhan dengan kekayaan alam yang melimpah, tanah yang luas dan subur. Idealnya bangsa semakmur ini adalah bangsa yang memiliki kekuatan besar dalam aspek-aspek kehidupan misalnya aspek ekonomi.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mengedapankan Ketuhanan YME dalam landasan utamanya serta memiliki sumber daya manusia yang banyak. Idealnya bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki moral mulia serta bangsa yang besar karena banyaknya SDM yang berkontribusi terhadap bangsanya.

Namun idealita itu terbentur dengan realita yang terjadi pada Bangsa ini. Kemiskinan, Kebodohan, Korupsi, Krisis Kepercayaan adalah sebagian kecil realita bangsa kita yang sedang terjadi saat ini. Jika keadaan ini terus berlangsung, maka mungkin saja 100 tahun ke depan nama Bangsa Indonesia hanya ada dalam sejarah internasional sebagai suatu bangsa yang pernah berdiri dan saat itu sudah tidak ada lagi.

Lantas dimanakah para kaum cendekia muda yang dulu katanya menjadi pelopor kebangkitan bangsa ini?

Mahasiswa sebagai kaum candekia muda bangsa ini adalah elemen masyarakat yang memiliki potensi besar untuk menyelesaikan permasalahan bangsa ini. Mahasiswa memiliki idealisme, dimana bila idealisme ini dapat diarahkan kepada kontribusi terhadap bangsa maka akan menjadi sebuah visi yang diiringi motivasi besar dan kuat untuk memajukan bangsanya. Potensi lain yang dimiliki mahasiswa adalah intelektual dan jiwa kritis, dimana jika kedua hal tersebut dapat diarahkan kepada kontribusi terhadap bangsa maka perannya sebagai penghubung (middle of class) antara rakyat dengan pemerintah dapat dirasakan kebermanfaatannya.

Namun sayangnya, potensi – potensi tersebut sering terbiaskan oleh keadaan nyaman yang dialami seorang mahasiswa. Banyak dari mereka yang memilih menutup mata ketika terjadi realita bangsa yang tidak sesuai hati nuraninya, banyak dari mereka yang memilih diam tertindas ketika para pemimpin bangsa ini melakukan tindakan yang keliru.

Untuk itu, diperlukan adanya suatu penyadaran dini terhadap kaum mahasiswa sebelum idealismenya terbiaskan oleh paham-paham negatif yang menjauhkannya kepada kesadaran untuk berkontribusi terhadap bangsanya.

Dan hal lain yang tidak kalah penting adalah adanya suatu gerakan kemahasiswaan yang padu, teroganisir dengan rapi serta mampu berkontribusi terhadap bangsa dengan berbagai potensi yang dimiliki agar idealita bangsa ini dapat menjadi realita bangsa.

Posted by: epul130 | November 18, 2008

insiden 30 Ribu,,

16 April 2008

“21 orang meninggal, 1 orang kritis, dan 11 orang luka – luka. Mereka semua menjadi korban dalam sebuah insiden pembagian zakat sebesar 30 ribu per orang” (sumber liputan 6 pagi, selasa 160908). Sungguh sebuah kabar duka yang mengiris, membuat pilu hati ini. Mereka rela berdesak – desakan demi uang 30 ribu yang bagi mereka itu sangat berharga, bisa mengobati perut mereka yang lapar. Itu semua ga akan mereka lakukan bila mereka tidak kekurangan. Teman2, ternyata 30 ribu itu amat sangat berharga bagi mereka yang kekurangan, jika selama ini kita memiliki rezeki lebih maka syukurilah dan jangan lupa untuk berbagi dengan mereka yang kekurangan.

Posted by: epul130 | November 18, 2008

Laskar..

Laskar Pelangi Vs

Laskar Rumah Pohon

lasrumpuunok

Setiap manusia ditakdirkan memiliki jalan hidup masing – masing. Kita juga akan dihadapkan pada berbagai rintangan yang khusus diberikan kepada kita oleh Allah, Sang Maha Kuasa. Dan biasanya kita menyebutnya masalah.

Sebuah kisah nyata yang diangkat menjadi novel dan film berjudul “Laskar Pelangi” menggambarkan bagaimana sekelompok orang yang berjuang mempertahankan berdirinya sekolah gratis khusus anak – anak dari keluarga miskin, di Balitong.

Seorang kepala sekolah yang begitu tulus mengabdi tanpa pamrih, berusaha menumbuhkan semangat anak – anak miskin tersebut untuk terus bermimpi dan mengejar impian tersebut. Serta mengajarkan kepada orang – orang disekitarnya tentang arti ketulusan, “berusaha untuk banyak memberi bukan menerima”. Ditemani Bu Muslimah, seorang guru yang tetap teguh pada pendiriannya bahwa anak – anak miskin itu berhak memiliki impian dan berjuang mewujudkannya.

Dan anak – anak lugu, yang ternyata memiliki semangat juang tinggi meraih impian mereka…

Setiap orang berhak untuk terus bermimpi, kuncinya ada pada seberapa kuat mimpi itu ia buat dan tentu seberapa tangguh perjuangan yang dilakukan untuk mewujudkannya..

Laskar Pelangi (L-P) dan Laskar Rumah Pohon (L-R-P), apa bedanya?

Bedanya: (L-P) tinggal di Balitong, sedangkan (L-R-P) tinggal di Tubagus Ismail, Bandung.

Bedanya: (L-P) harus berjuang menghadapi rintangan berupa Buaya Besar yang menghadang perjalanan mewujudkan mimpinya, sedangkan (L-R-P) harus berjuang menghadapi rasa malas: kuliah, belajar, jalanin piket harian, bikin roti buat jualan.

Bedanya: (L-P) adalah sebuah kisah nyata yang berhasil menggugah dan menyeruakan semangat untuk bermimpi sedangkan (L-R-P) barulah akan mengukir kisah penuh makna yang bisa menjadi inspirasi bermanfaat bagi anak2 muda Negeri ini.

Laskar!!! Mari Bermimpi,, Mari Berkarya.. Mari melukis kisah seindah Pelangi..

-Laskar Rumah Pohon-

Posted by: epul130 | August 23, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories